Kamis, 03 Juni 2021

Inilah Yang Terjadi Jika Virus Corona Terus Bermutasi & Menyebar, Ini Yang Akan Terjadi di Seluruh Dunia

Jika pandemi virus corona terus menyebar ke seluruh dunia, vaksin bisa menjadi tidak efektif dan varian-varian virus yang ada mampu menghindar dari sistem imunitas.

 

Menurut basis data genom seperti yang dihimpun nextstrain.org, saat ini ada lebih dari 1.000 varian dari virus Sars-CoV-2.

Hingga saat ini sejumlah varian disebut dengan nama lokasi tempat virus itu pertama kali diidentifikasi. Namun untuk menghindari stigmatisasi terhadap negara tertentu Badan Kesehatan Dunia (WHO) kini mengganti penamaan varian virus corona dengan abjad Yunani. Varian Inggris, Afrika Selatan, Brasil, dan India, kini diberi penamaan dengan Alpha, Beta, Gamma, dan Delta. Namun penamaan itu tidak mengganti kode ilmiah virus tersebut.

Dilansir dari laman Deutsche Welle, Rabu (2/6), varian terbaru yang ditemukan di Vietnam tampaknya adalah persilangan antara Alpha (B.1.17) dan Delta (B.1.617). Menurut Menteri Kesehatan Vietnam Nguyen Thanh Long, varian baru ini menyebar "lebih cepat di udara" dan itu menjelaskan melesatnya angka penularan pada bulan Mei.

Hingga kini Vietnam mencatat 3.500 kasus dan 47 kematian sejak dimulainya pandemi hingga Mei 2021. Pemerintah berhasil mengendalikan pandemi Covid-19 dengan menerapkan penguncian ketat dan karantina menyeluruh.

Namun sejak Mei, Vietnam sudah mencatat lebih dari 3.000 kasus baru--terbanyak di Provinsi Bac Ninh dan Bac Giang, kawasan tempat ribuan pegawai bekerja di bagian produksi perusahaan teknologi internasional.

Arah pandemi

Orang boleh menganggap angka itu masih relatif rendah, namun varian baru virus corona di Asia dan tempat lain harus menjadi perhatian di mana pun kita berada. Pandemi bisa terus berlangsung dan menyebabkan penderitaan lebih luas ke seluruh dunia.

Jika varian baru ini dengan cepat bisa beradaptasi pada manusia sebagai inangnya, maka antibodi kita--baik yang terbentuk karena vaksin atau penularan--pada titik tertentu tidak akan lagi mampu melindungi kita. Tes antigen atau PCR tidak akan lagi mampu mendeteksi jenis varian ini dan bisa memberikan hasil yang keliru. Pada akhirnya ketersediaan vaksin akan perlahan sia-sia.


 

 
Itulah sebabnya betapa pentingnya untuk mengidentifikasi virus sesegera mungkin dengan menggunakan pengurutan genetik dan memastikan sejumlah tipe vaksin dengan dosis tertentu bisa tersedia secara global dan tidak cuma untuk negara kaya saja.

Jauh dari usai

Menurut London Imperial College, varian Delta sekitar 20 hingga 80 persen lebih mudah menular dari varian Alpha. Dengan begitu virus tersebut kemungkinan bisa menghindari sistem imun yang sebelumnya diberikan lewat vaksinasi atau penularan sebelumnya. Penelitian di Inggris memperlihatkan vaksin BioNTech/Pfizer dan AstraZeneca tidak begitu efektif melindungi dari varian ini.

Varian yang ditemukan di Vietnam adalah silangan dari Alpha (B.1.17) dan Delta (B.1.617). Baru satu juta dari 96 juta populasi di Vietnam yang divaksin dengan AstraZeneca, vaksin yang ampuh melawan varian Aplha tapi tidak begitu efektif melawan varian Delta. Pada paruh kedua tahun ini, Vietnam berharap bisa mendapat tambahan vaksin mRNA dari BioNTech/Pfizer dan Moderna. Sejauh ini belum diketahui bagaimana vaksin tersebut mampu menghadapi varian silangan yang ditemukan di Vietnam.

 

Di Bangladesh, sebaliknya, varian beta (B.1.351) memicu tingginya kasus penularan. AstraZeneca dilaporkan kurang memberikan perlindungan optimal dari jenis varian ini. Ini masalah besar, karena vaksin yang tersedia di Bangladesh adalah Covishield, nama dari vaksin AstraZeneca yang diproduksi di India.

Tidak adilnya distribusi vaksin

Negara-negara kaya berambisi memvaksinasi mayoritas penduduknya pada akhir musim panas ini, sementara negara Asia, Afrika, dan Amerika Latin masih banyak yang belum memulai program vaksinasi.

 

Menurut penelitian di jurnal kedokteran The Lancet, negara kaya sudah mengamankan 70 persen pasokan dari lima vaksin Covid-19 yang ada. Menurut WHO hanya 0.2 persen dari populasi di negara miskin yang sudah divaksin. The Economist memperkirakan vaksinasi massal tidak akan dimulai di negara-negara miskin hingga 2024 paling cepat, jika program vaksinasi masih berjalan seperti sekarang.

"Pandemi ini masih jauh dari usai," kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus, seraya mengkritik lebarnya jurang ketidakadilan dalam distribusi vaksin antara negara kaya dan miskin.

Jika varian virus corona ini terus menyebar cepat dan beradaptasi di tubuh manusia sebagai inangnya maka ketidakdilan ini bisa menjadi akar masalah bagi negara kaya

Rabu, 02 Juni 2021

Kebakaran Bencana di Aceh pada Mei 2021, Si Jago Merah Mengamuk Sebanyak 28 Kali

Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) mencatat kebakaran permukiman menjadi bencana paling banyak terjadi di Provinsi Aceh pada Mei 2021. Si jago merah mengamuk 28 kali dan membakar 99 unit bangunan di daerah itu pada bulan lalu.

 

Kepala Pelaksana BPBA Ilyas menyebut, kejadian bencana di Aceh yang berjumlah 58 kali. Hampir separuhnya adalah kebakaran.

Dia merinci, bencana kebakaran permukiman pada bulan Mei menyebabkan 54 rumah, 44 ruko dan 1 sekolah terbakar.

 

"Korban terdampak kebakaran berjumlah 61 KK atau 175 jiwa dari 28 desa dan 28 kecamatan. Adapun total kerugian yang disebabkan oleh kebakaran pemukiman pada bulan ini adalah Rp14,9 miliar," katanya Rabu (2/6).

Kebakaran permukiman paling banyak terjadi di Kabupaten Aceh Besar dan Bener Meriah, masing-masing 5 kejadian. Lalu, Aceh Barat dan Bireuen masing-masing sebanyak 3 kali kejadian.

Karena kebakaran permukiman masih sering terjadi di Aceh, Ilyas mengimbau masyarakat untuk dapat meningkatkan kesiapsiagaan. Salah satu langkah yang dilakukan adalah memeriksa instalasi listrik yang sudah tua yang sering menjadi penyebab kebakaran.

 

Sementara itu, banjir menjadi bencana kedua paling sering terjadi di Aceh pada Mei 2021. Total tercatat 8 kejadian banjir di daerah ini dan merendam 1.375 rumah. "Banjir paling berdampak itu banjir yang terjadi di Aceh Singkil pada 17 Mei silam, yang merendam rumah 1.092 KK atau 4.895 jiwa," ungkapnya.

 

Angin puting beliung berada di posisi ketiga bencana paling banyak terjadi. BPBA mencatat 7 kali kejadian sepanjang bulan Mei 2021.

Semua bencana yang terjadi di bulan Mei itu menyebabkan kerugian Rp37 miliar.

 


 

 

Selasa, 01 Juni 2021

Beginilah Efek Samping Nasib Seseorang Setelah Vaksinasi

Teriakan Trio Fauqi Firdaus memecah malam. Membangunkan seisi rumah. Tubuhnya kesakitan. Tidak kuat menahan demam dan sakit di kepala. Keadaan terus semakin memburuk. Hingga akhirnya rasa sakit tidak lagi tertahan. Trio pun dinyatakan meninggal dunia.

Pria 22 tahun itu meninggal ketika dibawa ke rumah sakit pada Kamis siang, 6 Mei 2021. Sehari sebelumnya baru saja dia menjalani dosis kedua Vaksin AstraZeneca di Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta.



"Sampai akhirnya dia tak sadarkan diri (dan) dibawalah ke rumah sakit, setelah dibawa selang beberapa saat ada dokter yang datang dan bilang bahwa (Trio) ini sudah meninggal dunia," ujar sang kakak, Vickih, kepada merdeka.com.

Karyawan kontrak PT Pegadaian (Persero), itu terdaftar dari 6.000 orang penerima vaksin di GBK kala itu. Dia datang bersama 500 karyawan Pegadaian lainnya.

Komisi Nasional Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (Komnas KIPI) tengah melakukan investigasi terhadap kematian Trio. Komnas KIPI merekomendasikan kuburan Trio dibongkar guna melakukan autopsi untuk mengetahui keterkaitan antara kematiannya dengan vaksinasi Covid-19 AstraZeneca.

Sakit serupa pun dirasakan Abdullah Malanua, 44 tahun. Warga Bali berprofesi sebagai tukang jahit itu sudah sakit kurang lebih dari selama sepekan.

Abdullah juga merasakan sakit di kepala. Kerap muntah dan tubuhnya keringat dingin. Ada dugaan riwayat penyakit tekanan darah tinggi, diabetes dan kolesterol. Kondisi itu dirasakan setelah mengikuti vaksinasi. Kala itu Abdullah mendapat Vaksin AstraZeneca.

"Tapi meninggalnya belum tentu karena vaksinnya," kata Kepala Dusun Batu Bintang Desa Dauh Puri Kelod, Nyoman Mardika saat dihubungi.



Sejauh ini Komnas KIPI mencatat 30 orang ditemukan meninggal usai melakukan vaksinasi Covid-19. Dari jumlah itu, 27 di antaranya menggunakan vaksin Sinovac. Sementara kasus kematian untuk vaksin AstraZeneca terdapat 3 kasus. Dua terjadi di Jakarta, dan satu lagi berada di Ambon, Maluku.

Executive Secretary ITAGI Julitasari Sundoro menyampaikan, tidak mudah untuk menentukan penyebab kematian Trio. Lantaran yang bersangkutan meninggal ketika tiba di rumah sakit. Karena itu tidak ada data medis untuk menentukan penyebab kematiannya. Karena itu, dia salah satu cara untuk mengetahui penyebab kematian yakni lewat proses autopsi.

"Dia datang ke rumah sakit sudah dead of arrival. Sudah meninggal sampai rumah sakit. Jadi tidak punya data apapun sama sekali. Bagaimana kita bisa menegakkan diagnosa," ujar Julitasari kepada merdeka.com.

 

Sejauh ini vaksin Astrazeneca sudah dipakai hampir 1 miliar dosis di seluruh dunia. AstraZeneca juga dinilai masih layak digunakan.

Dengan nomor bets CTMAV547, hasil uji toksisitas dan sterilitas dilakukan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Berdasarkan hasil pengujian yang, dapat disimpulkan bahwa tidak ada keterkaitan antara mutu Vaksin COVID-19 Astrazeneca bets CTMAV547 dengan KIPI yang dilaporkan.

Ketua Komnas KIPI Prof. Hindra Irawan Satari mengatakan, dari 3 kasus yang meninggal telah diketahui dua kasus. Yakni meninggal karena covid dan radang paru-paru. Sementara untuk Trio belum diketahui.

Saat ini tengah dilakukan pemeriksaan, tetapi untuk vaksinnya tidak tercemar dan tidak mengandung zat berbahaya. Berharap hasil autopsi segera keluar. Sejauh ini Komnas KIPI masih merekomendasikan AstraZeneca aman. "Memang tidak mudah menetapkan penyebabnya," ujar Hindra.

Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kemkes, Siti Nadia Tarmizi, menegaskan pemerintah terus menjamin keamanan vaksin diterima masyarakat. Kondisi saat ini harus diakui bahwa negara mengejar target kebutuhan vaksinasi sebanyak 426,5 juta dosis vaksin.

Sejauh ini sudah ada sekitar 83.910.500 dosis vaksis per 25 Mei 2021. Jumlah tersebut terdiri atas bahan baku (bulk) vaksin dan vaksin jadi.

Adapun untuk keamanan vaksin, Siti menyebut banyak negara kini tidak tebang pilih terkait merek vaksin. Mulai dari Sinovac maupun AstraZeneca dan merek lainnya. Semua merek vaksin yang akan maupun sudah didatangkan dijamin mutu keamanannya.

"Kita manfaatkan dulu yang sekarang. Memang ada yang efek lindungnya enam bulan, efek lindungnya 1 tahun. Nanti kalau berikutnya, kita barang kali bisa pilih. Bukannya dibeda-bedakan. Ya sekarang datang ini kita pakai dulu," ujar dia.

Kementerian Kesehatan pun memastikan terus memantau dan memberikan masukan terhadap pemerintah terkait penggunaan vaksin. Dengan begitu, vaksin yang sudah didatangkan tersebut, benar-benar memiliki manfaat bagi masyarakat dan bagi upaya melawan Covid-19.


Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta masyarakat jangan takut menerima vaksinasi. Harus diakui memang ada kasus meninggal dunia usai vaksinasi. Meski begitu, belum bisa dikatakan bahwa penyebabnya akibat vaksin.

 



"Vaksin seperti Anda minum kopi. Setelah minum kopi masa Anda mati karena kopi. Bisa jadi karena jantung," Ketua MUI KH Muhammad Cholil Nafis kepada beritaaktualterpecayaa.blogspot.com


 

Inilah Yang Terjadi Jika Virus Corona Terus Bermutasi & Menyebar, Ini Yang Akan Terjadi di Seluruh Dunia

Jika pandemi virus corona terus menyebar ke seluruh dunia, vaksin bisa menjadi tidak efektif dan varian-varian virus yang ada mampu menghind...